Selasa, 02 Juli 2013

Haryono Suyono, Mantan Menteri Kependudukan RI

Pengembangan isu positif biasanya bagus untuk mencari kawan perjuangan dalam suatu gerakan masyarakat. Isu semacam itu menggerakkan kalangan luas dan semakin menarik perhatian. Isu bahaya kematian ibu hamil menarik perhatian, tetapi Bung Karno sebagai tokoh legendaris di era 1950-an merasa bahwa kalau isu itu ditanggapi secara positif dan diambil keputusan yang drastis, pasti menggoyahkan simpati rakyat. Karena, rakyat tengah bergembira merayakan kebebasan berkumpul dengan keluarganya.

Menurut keyakinan Bung Karno, rakyat yang sedang menikmati suasana gembira tidak bisa dilarang menikah, berkumpul sebagai suami isteri dan mempunyai anak. Kalau itu dilakukan, secara politis bisa menjadi bumerang karena menentang kehendak atau kegembiraan rakyat banyak.

Secara terbuka Bung Karno berpihak kepada rakyat bahwa penduduk yang besar bisa menjadi kekuatan maha dahsyat bagi negara dan bangsa. Bung Karno tidak menyaratkan harus berkualitas karena pemerintah sedang merumuskan program yang tujuannya sesuai UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bung Karno berasumsi bahwa bangsa Indonesia dalam alam kemerdekaan akan segera berubah dari bangsa yang tingkat sosial ekonominya rendah menjadi bangsa yang cerdas dan sejahtera. Otomatis penduduk Indonesia yang besar jumlahnya akan menjadi kekuatan maha dahsyat.

Para dokter ahli yang ingin memperoleh penyelesaian langsung atas isu bahaya ibu hamil yang sangat memprihatinkan itu tidak kekurangan akal. Mereka beranggapan bahwa upaya yang dilakukan tidak cukup meyakinkan para politikus, terutama presiden dan para menteri. Mereka ingin agar keprihatinan itu mendapat sambutan meriah seperti keadaan dilihat di lapangan. Melalui dokter kepresidenan mereka mengetahui bahwa Bung Karno sebenarnya secara moril mendukung keprihatinan tersebut.

Meskipun demikian, melihat masih adanya dukungan tersebut, kelompok yang risau akan tingginya kematian ibu hamil dan balita segera memperluas jaringan mencari pengaruh ke luar negeri. Kelompok itu mengirim tokoh rekan sejawatnya untuk mendapatkan ilmu lebih tinggi ke Amerika dan beberapa negara maju lainnya. Tokoh-tokoh Indonesia itu, antara lain Prof dr Judhono (Almarhum), bertemu banyak tokoh lain yang menaruh perhatian serius tentang penanganan ibu hamil yang mengalami gangguan. Tokoh itu juga mendengar kiprah tokoh-tokoh dunia seperti Prof Dr Hauser dan Prof Dr Donald Bogue dari Universitas Chicago, AS.

Banyak tokoh lain yang memberi inspirasi tentang population boom, population explosion dan semacamnya yang mengancam stabilitas sosial ekonomi dunia, terutama negara-negara berkembang. Bagi tokoh-tokoh Indonesia, keprihatinan ahli-ahli dunia itu memperkuat keyakinan atas isu yang berimplikasi lebih luas dibanding isu kesehatan yang umumnya dikuasai para aktivis dokter di Indonesia.

Pengalaman itu menambah kredibilitas kelompok pejuang isu kesehatan ibu hamil yang sudah dikembangkan di Indonesia. Dokter-dokter yang dikirim ke luar negeri menggambarkan perkembangan yang dilihatnya sebagai tren baru yang berbahaya. Sementara Indonesia pada waktu itu adalah negara dengan jumlah penduduk nomor lima di dunia. Ini, menjadi salah satu penyumbang population boom atau population explosion yang perlu mengambil langkah-langkah konkrit untuk menyelesaikannya.

Ketakutan akan population explosion menambah semangat juang dengan isu kesehatan yang berdimensi lebih luas. Para aktivis yang belum berhasil menggerakkan presiden beralih pada strategi pengembangan program dan kegiatan menolong anak bangsa bermasalah dengan kehamilan, dan kematian bayi sebelum lahir. Atau, bayi yang tidak bisa merayakan ulang tahunnya yang pertama dan kedua. Para aktivis mengambil langkah konkrit yang lebih praktis.

Praktik pertolongan nyata kepada ibu hamil dan anak-ank yang disertai pengembangan isu yang lebih menakutkan itu dianggap mempunyai jangkauan sasaran yang lebih luas dan dipastikan bisa lebih menarik perhatian kalangan intelektual. Kalau isu yang diangkat terbatas pada ibu hamil dan melahirkan, dipastikan hanya para dokter yang mengambil peran. Tetapi, kalau isunya berkembang menjadi gangguan sosial ekonomi penduduk seluruh bangsa, maka kaum intelektual pada umumnya bisa menaruh perhatian dan mendukung. Tokoh-tokoh ilmuwan, guru besar atau tokoh kredibel lainnya akan memastikan dukungannya.

Makin banyak tokoh yang ke luar negeri dan membawa oleh-oleh perkuatan isu, dan makin tersebar berita yang memperkuat isu itu. Tokoh-tokoh non-medis juga ikut bicara dan memperluas penyebaran isu kematian ibu hamil dengan tambahan bahaya ledakan penduduk mengancam di Indonesia. Pendekatan yang tidak membawa hasil gegap gempita kepada Presiden Soekarno kemudian diteruskan kepada pejabat Presiden Soeharto dan sekaligus kepada Gubernur DKI Jakarta yang dinamis, Ali Sadikin. Gubernur yang dihadapkan kepada tanggung jawab menyediakan sekolah, pelayanan kesehatan dan prasarana lain untuk rakyat yang terus membanjiri Kota Jakarta merasakan bahwa fasilitas kesehatan dan upaya membendung tingginya kelahiran perlu segera dijalankan di Jakarta.

Dengan cepat, para dokter dan pemerhati yang tergabung dalam Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menempatkan (Alm) Ali Sadikin - yang menyatakan siap memberi pelayanan KB dan kesehatan ibu di wilayahnya - sebagai ikon untuk isu sarana mencari kawan seperjuangan yang positif. Upaya itu berhasil dengan baik melalui suatu kongres kependudukan nasional pertama di Indonesia pada 1967.

Isu masalah kependudukan akhirnya makin mengerucut dan menyebar. Pendekatan isu yang menakutkan dan disertai ajakan untuk menyelesaikannya dipergunakan oleh para sesepuh bangsa untuk membangun persatuan dan kesatuan yang membawakan kebahagiaan dan kesejahteraan untuk anak bangsa. ***

http://www.haluankepri.com/layanan-umum/24173-mengemas-isu-ledakan-penduduk.html
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!